Rabu, 06 Juni 2012

Asa di atas asa


Angin, hempasku karenamu
merindu pada pijakanku di pasir-pasir debu

Angin, hempasku padamu
sesali pada sentuhanku di riak-riak asa

Angin, hempasku sebabmu
sebab arah yang tiada

Dan cinta,
aku sudah lupa...

Sabtu, 02 Juni 2012

Inginnya


Ingin kembali
Jarum-jarum tak bermata
lebih... lebih...
menyulam pelupuk
membakar hela nafas
Aku terdiam, selangkah lalu tersungkur
menatap tanpa pandang
tawaku bersembilu
kotor...
Tuhan, untuk apa Kau tarikkan tali
dalam sendiri...
lapuk dimakan ambisi
tak dapat menikmati, ini
Kemudian
Mati... mati...

Terhempas


Memandang dunia dari sisi ini
Awan melebur, pelangi berbalik
Danau menerjal, berlembah daun-daun
Juga kabut yang mengair...

Menoleh ke belakang
Jadikan aku pada keheningan
Jika kembali
Ada langkah-langkah lain

Ah... klise
Daftar itu milik-Nya?
Tuhan hanya menyediakan air seember
Aku harusnya mengeruk dari sumur-sumur lain

Ingin menghardik!
Ember-ember itu bukan anti bakar
Airnyapun tak sejernih perkiraan
Aku harusnya mengeruk dari sumur-sumur lain

Benar...
Harusnya, ku keruk dari sumur-sumur lain

Menguap


Menguap aku, waktu-waktu tak berdetik
Menguap aku, suara-suara pengkritik
Menguap aku, kalian gelitik
Mati aku, kalian terkikik

Aku?
Hardik saja! tendang saja! sayat saja!
Tajam mata-mata, akupun tak merasa
Andai hilang nyawa, senyum saja

Ah... mereka bisa saja
Biasa saja...
Berkoar pun menopang wajah
Mungkin berlari, tapi menyelam kawah
Alah... Sudahlah!

Aku, bukan layaknya
Salah!
Siap lepaskan padi
Tapi lagi-lagi... itulah kalian, para pendengki!

Sedap Malam


Mata-mata berbohong
Pura-pura...
Pahitnya madu saat bercampur getah-getah manggis
Pura-pura...

Hitam... putih...
Satu, dua... pelan... pasti lumpuh,
Lumpuh... Bermusuh malam
Mengerat jalan yang mereka sebut ‘takdir’

Lelah, berlari tanpa kaki
Tanpa dikasihani, menepi pun salah arti
Aku ingin jadi si Sedap Malam, tak pernah takut pada malam
Pun merekah demi malam

Terdiam


Aq tak gila
Hanya terkurung bak orang gila
Aq mencinta
Selayaknya benci yang aku punya
Ketika aq tak tau arah
Bahkan berpijakpun tak mungkin
Berkelit dan marah
Kemudian melepuh dalam dingin