Jumat, 03 Mei 2013

Kasian anak-anak Indonesia


Di sekolah Jepang, para siswa tidak mendapatkan ujian APAPUN sampai mereka mencapai kelas 4 SD (usia 10 tahun)! Kenapa?
Karena tujuannya dalam 3 tahun yang pertama TIDAK untuk menilai pengetahuannya atau kemampuan belajar anak, tetapi untuk mendirikan sikap sopan santun dan untuk mengembangkan karakter mereka! Ya, itulah yang diajarkan oleh cendekiwan mereka: akhlak yang mulia SEBELUM ilmu pengetahuan! (Dan di Denmark, tidak ada ujian sampai kelas 9, yaitu kelas 3 SMP!!!)
Sedangkan di Indonesia, anak diberikan hafalan, PR, ujian, hafalan, PR, ujian, hafalan, PR, ujian, lalu ada juga Ujian Nasional!
Akhlak yang mulia? Maaf, itu nomor berapa dalam ujiannya ya? Kalau tidak ada, buat apa harus dihafalkan?


Sumber: http://www.facebook.com/photo.php?fbid=10151516663326598&set=a.373007086597.156959.321218826597&type=1&ref=nf

Kamis, 02 Mei 2013

Lomba Komedi-Romantis


Nih, ada lomba menulis lagi loh Temen-temen...

Obrolan BBM dua lelaki Indonesia yang tinggal di luar negeri, 2 negara berbeda:

Mayoko aiko: “Jadi kapan ini saya merapat ke Jogja?”
Waduuh, BBM Mayoko Aiko ini udah lama ternyata. Gue nggak nyadar. Segera gue bales:
Me: “Duh, maaf, baru balas. Njenengan tinggal dimana je pak?”
Mayoko aiko: “Fokuoka.”
Me: “Mana itu?”
Mayoko aiko: “Jepang selatan. Menghadap laut Korea/Busan.”
Me: “Nggak usah ke Jogja, Pak, aku lagi di Manchester nih, sedang ngadep Old Trafford.”
Mayoko aiko: “Kita harus buat wadah menulis buat anak-anak muda dengan cara yang bener!”
Me: “Siap atuh! Masak spirit anak-anak muda tuk jadi penulis malah dikerjain macem-macem ya, nggak bener itu atuh! Aku paling atuh-lah pokoknya…”
Mayoko aiko: “Kok banyak atuh-nya, Mas…?”
Me: “Pernah sekolah di Dago Atas sih…”
#teeetttt…abaikan ini!

Sayembara Menulis Novel Islami Bunyan Bentang Pustaka – DL 30 Juni 2013


Temen-temen, ada info lomba menulis nih. Hadiahnya WAH banget, patut dicoba ^^ 
Syarat dan Ketentuan: 
  • Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia sepanjang minimal 150-250 halaman A4, 1,5 spasi menggunakan font Times New Roman ukuran 12 pt.
  • Naskah merupakan karya orisinal, bukan terjemahan, saduran atau jiplakan.
  • Naskah mengandung nilai-nilai Islam universal yang toleran, penuh cinta kasih, anti-kekerasan dan inspiratif.
  • Naskah TIDAK mengandung kebencian, dogma, isu SARA dan pornografi.
  • Naskah belum pernah dipublikasikan di media cetak maupun online, dan tidak sedang mengikuti sayembara sejenis.
  • Naskah dikirim ke alamat:

Senin, 02 Juli 2012

Salamku

Ada air yang tak basah, tapi menyipta kekeringan di mata. ada jua luka yang tak digores, tapi memberi perih yang tak sekiranya. laju itu bak mata kail lengkap dengan umpannya. siap menjerat hati, meminta mata mengairi tanpa basah. meminta perih tanpa luka. dan aku, nyatanya sudah biasa...

Andai dia tahu, angin tak selalu menghempas, laut tak selalu menenggelamkan...
tapi tetap, aku ingin di sini, di dua sisi, menghadap ke depan-berjalan dengan langkah lirih, dan melihat di sekitar-demi rasa khawatirku terobati.

Allah, ampunku sebab selalu merindu, pada air yang mengeringkan mata hati.
hanya jadikan perlindungan-Mu bagi kami, bagi yang tersemat di hati, sebagai anugrah dan ridho-Mu. sebagai hadiah-Mu.
sebagai, rahasia hati.

Sabtu, 16 Juni 2012

Kisah Nyata Keajaiban Ayat Kursi

Ini kisah nyata dari Amerika (US) sekitar tahun 2006. Pengalaman nyata seorang muslimah asal asia yang mengenakan jilbab.

Suatu hari wanita ini berjalan pulang dari bekerja dan agak kemalaman ….. suasana jalan setapak agak sepi …. dia melewati short cut yang agak gelap dan sendirian …..

Di ujung jalan pintas itu dia melihat ada sosok pria kaukasian, pasti orang amerika pikirnya …. tapi perasaan wanita ini agak was-was karena sekilas raut pria itu agak mencurigakan seolah ingin mengganggunya ….


Rabu, 13 Juni 2012

Jika Nanti

Di balik dinding-dinding beku, ia khawatir. khawatir akan baik tidaknya kamu, khawatir akan pudarnya senyummu, khawatir akan rapuhnya hatimu, dan khawatir akan jatuhmu--kedua kalinya.


Cinta, yah... doa-doa tulus itu selalu terpanjat, atas nama cinta--ia berdoa. ia berdoa untukmu. pagi-siang-sore-malam-bahkan saat ia terlelap dan bermimpi, ia bermimpi berdoa pada Kuasa demi kebahagiaanmu.
Demi kamu...

Rabu, 06 Juni 2012

Asa di atas asa


Angin, hempasku karenamu
merindu pada pijakanku di pasir-pasir debu

Angin, hempasku padamu
sesali pada sentuhanku di riak-riak asa

Angin, hempasku sebabmu
sebab arah yang tiada

Dan cinta,
aku sudah lupa...

Sabtu, 02 Juni 2012

Inginnya


Ingin kembali
Jarum-jarum tak bermata
lebih... lebih...
menyulam pelupuk
membakar hela nafas
Aku terdiam, selangkah lalu tersungkur
menatap tanpa pandang
tawaku bersembilu
kotor...
Tuhan, untuk apa Kau tarikkan tali
dalam sendiri...
lapuk dimakan ambisi
tak dapat menikmati, ini
Kemudian
Mati... mati...

Terhempas


Memandang dunia dari sisi ini
Awan melebur, pelangi berbalik
Danau menerjal, berlembah daun-daun
Juga kabut yang mengair...

Menoleh ke belakang
Jadikan aku pada keheningan
Jika kembali
Ada langkah-langkah lain

Ah... klise
Daftar itu milik-Nya?
Tuhan hanya menyediakan air seember
Aku harusnya mengeruk dari sumur-sumur lain

Ingin menghardik!
Ember-ember itu bukan anti bakar
Airnyapun tak sejernih perkiraan
Aku harusnya mengeruk dari sumur-sumur lain

Benar...
Harusnya, ku keruk dari sumur-sumur lain

Menguap


Menguap aku, waktu-waktu tak berdetik
Menguap aku, suara-suara pengkritik
Menguap aku, kalian gelitik
Mati aku, kalian terkikik

Aku?
Hardik saja! tendang saja! sayat saja!
Tajam mata-mata, akupun tak merasa
Andai hilang nyawa, senyum saja

Ah... mereka bisa saja
Biasa saja...
Berkoar pun menopang wajah
Mungkin berlari, tapi menyelam kawah
Alah... Sudahlah!

Aku, bukan layaknya
Salah!
Siap lepaskan padi
Tapi lagi-lagi... itulah kalian, para pendengki!

Sedap Malam


Mata-mata berbohong
Pura-pura...
Pahitnya madu saat bercampur getah-getah manggis
Pura-pura...

Hitam... putih...
Satu, dua... pelan... pasti lumpuh,
Lumpuh... Bermusuh malam
Mengerat jalan yang mereka sebut ‘takdir’

Lelah, berlari tanpa kaki
Tanpa dikasihani, menepi pun salah arti
Aku ingin jadi si Sedap Malam, tak pernah takut pada malam
Pun merekah demi malam