Selasa, 13 Maret 2012

Antara Al-Ikhlas dan Al-Kautsar


"Ayo, subuh ini siapa yang mau jadi imamah?" tanyaku pada puluhan adik didikku di satu pengajian--waktu itu sedang ada pelaksaan pesantren kilat khusus irmawati (santri perempuan) di kampung--pas ramadhan. hasilnya? tak ada yang berani mengacungkan tangan.
"ayo siapa?" tegasku lagi. ku lempar pandangan ke arah mereka satu persatu. kebanyakan mereka malah menunduk. aku lesu--kemudian berbalik hendak mengimami.
"saya kak..." seru sesuara sumbar dari sudut kiri syaf. semua menoleh ke asal suara. pemilik suara tadi ternyata Aisyah--siswi SMP kelas 3.


"alhamdulillah... sini..." ucapku tersenyum bangga setelah shalat berjama'ah."kecil-kecil cabe rawit nih, yang sudah SMA malu ya..." ejekku kemudian. yang merasa lebih tua hanya kian menenggelamkan wajahnya--malu.

magribnya, aku melakukan hal yang sama. meminta mereka untuk mengimami. tapi masih sama--tak ada yang berani mengacungkan tangannya. hingga akhirnya ketika aku akan maju ke tempatku sebagai imamah, tapi, si Aisyah kecil itu kembali bersuara.
"saya kak..." aku menoleh, heran dengan kebranian keduanya itu. begitupun yang lain.

"Qulhuwallahuahad..." ia selalu membaca Qur'an surah Al-Ikhlas di rakaat pertama.
"Inna a'toina kalkautsar..." lantas surah Al-Kautsar di rakaat kedua.
setelah shalat--ku ingat-ingat ternyata dua surah itu juga ia bacakan sewaktu subuhan tadi.

"saya kak..." selesah suaranya kembali terdengar mengalahkan yang lain. kali ini shalat subuh dua hari setelah pembukaan acara pesantren kilat. kalau Isya dan tarawih aku tak berani menyerahkannya pada adik-adik didikku itu.
"saya kak..."  masih suara Aisyah pada magrib ini juga.

hingga subuh di hari ke empat--hari penutupan. Aisyah masih terus mengacungkan tangannya dan memintaku mempersilahkannya menjadi imamah. pun masih dengan kedua ayat langganannya itu. 3 kali subuh serta 4 kali magrib, yah 7 waktu shalat itu kesemuanya ia bacakan surah Al-Ikhlas di rakaat pertama dan surah Al-Kautsar di rakaat kedua.

Subhanallah... desahku saat mengingatnya.
"Aisyah... sini" panggilku--ia tengah membereskan pakaian kotornya hendak di bawa pulang.
"kakak boleh nanya gk?"
"boleh..." ucapnya dengan senyum lugu.
"Aisyah dari kampung mana? kok kakak gk pernah nampak"
"Aisyah baru pindah kak. ayah pindah kerja di sini" mendengarnya aku manggut-manggut.
"hm... boleh nanyak lagi gk" ucapku agak meringis. ia mengangguk.
"yang ngajarin Aisyah mengaji siapa di rumah?" tanyaku. ia sentak menaikkan rahang wajahnya, seolah agak kaget. aku jadi sungkan.

"ayah kak" jawabnya kemudian.
"udah berapa ayat pendek yang Aisyah hapal?" tanyaku menyelidik.
"dua kak..." kini tau alasan ia hanya membacakan dua surah itu di setiap shalatnya.
"kok cuma dua?"
ia tak menjawab, ia justru melempar pandang ke arah tanah lapang di hadapan gedung tempat pesantren kilat berlangsung. aku menunggunya menjawab pertanyaan paling penting itu.

"nanti kalo hapal banyak-banyak, Aisyah malah lupa sama bacaan shalat yang laen kak..." lantas jawabnya--lugu.
meski bingung dengan jawabannya yang sedikit tidak masuk akal--aku hanya tersenyum.

setelah acara penutupan, aku baru tahu kalau Aisyah baru dua minggu menetap di kampung kami. dan dari mana ia berasal? ini yang membuat kebingunganku terhadapnya terjawab. nyatanya keluarganya adalah keluarga muallaf sekitar sebulan ini. yah, ibunya dinikahi oleh seorang lelaki muslim--sedang sang ibu adalah janda beranak satu, dialah si Aisyah cantik itu.

ya Allah... T_T
hebat benar Aisyah ini... ia dapat menghafal bacaan shalat plus dengan dua surah kebanggaannya--Al-Ikhlas dan Al-Kautsarnya hanya dalam waktu kurang dari sebulan.

aku sendiri merasa kalah dengan sikap pemberaninya itu, ia berani meski ia sadar kalau ia tidak lebih baik dari orang lain...
ia muslimah pemberani, Aisyah sangat pemberani...
^_^

13 maret 2012
(hak cipta dilindungi Allah)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar